Hilangkan Kebencian

Bagaimana caranya untuk menghilangkan rasa benci dan atau kebencian terhadap sesuatu atau seseorang ? Kenapa kita harus menghilangkan rasa benci dan atau kebencian terhadap sesuatu atau seseorang ?

Hilangkan kebencian di tengah perbedaan , hilangkan kebencian dan hadapi kenyataan bahwa kehidupan ini selalu berubah seperti roda yang selalu berputar kadang satu sisi berada di atas, kadang juga di bawah dan itu adalah realita, sebuah takdir yang harus dijalani oleh setiap manusia dalam menjalani kehidupan. 

Hidup memang sulit, kehidupan memang terasa susah, tapi janganlah karena kesulitan yang di alami dan kesusahan yang diderita menjadi hambatan bagi setiap diri untuk berbuat baik dengan menghilangkan kebencian. 

Hidup memang susah ketika kita sedang berada dalam suatu masalah, akan tetapi setiap masalah pastinya bisa dipecahkan serta di selesaikan, tergantung bagaimana seseorang menyikapi dan mencari jalan keluar akan setiap masalah yang sedang dihadapi. 

Tidak dapat kita elakkan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap manusia memang bermacam-macam, baik itu persoalan ekonomi, percintaan, persaingan bisnis , agama , status sosial dan sebagainya. Tentunya setiap masalah yang dihadapi setidaknya ternyata melibatkan orang lain. Lalu apakah kita harus membenci orang tersebut ketika ia menyakiti kita ? haruskah kita memendam benci dan dendam yang berkepanjangan serta berpikiran untuk membalas semua perbuatannya ?. 

Membenci atau di benci itu tidak enak, tidak nyaman dan selalu mengganggu hati dan  pikiran yang jika kesemuanya ditahan bisa meledak seperti gunung berapi yang memuntahkan lahar dengan segala isi yang terkandung didalamnya. Dan ketika semua terlontar begitu saja, tanpa di sadari, segala macam isi yang di muntahkan telah merusak diri manusia dan tatanan kehidupan umat manusia. 

Sama halnya ketika kita menumpahkan segala kemarahan, menuangkan kebencian baik itu melalui mulut kita, perbuatan kita, sikap kita yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah membuat luka dan menyakiti perasaan seseorang. 

Dalam hal ini kebencian bukan hanya sebuah beban pikiran namun beban perasaan dan juga beban kejiwaan. Jadi dalam hidup, berusahalah untuk mencintai dan menyayangi semua orang dan jangan berusaha untuk membenci orang lain. 

Dengan cinta dan kasih sayang maka semua masalah hidup akan terselesaikan Dan Perdamaian Bukanlah Dusta

Kandungan Makna Sayyidul Istighfar

Ini adalah doa agung yang mencakup banyak makna : taubat, merendahkan diri kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan kembali menghadap kepada-Nya. Nabi Shalallahu ‘alahi wa Sallam menamainya sebagai Sayyidul Istighfar (penghulu istighfar), yang demikian itu karena  melebihi seluruh bentuk istighfar dalam hal keutamaan. Dan lebih tinggi dalam hal kedudukan.

Diantara makna sayyid adalah orang yang melebihi kaumnya dalam hal kebaikan dan yang berkedudukan tinggi dikalangan mereka.

Keutamaan doa ini dibanding bentuk istighfar yang lain adalah :
  1. Nabi Shallalahu ‘alahi wasallam mengawalinya dengan pujian kepada Allah dan pengakuan bahwa dirinya adalah hamba Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya (penetapan Tauhid Ar Rububiyyah), Dan bahwa Allah adalah Al Ma’buud (sesembahan) yang haq dan tidak ada sesembahan yang haq  selainNya. Maka Dia adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dan ini merupakan realisasi Tauhid Al Uluhiyyah.
  2. Pernyataannya bahwa ia senantiasa tegak diatas janji dan kokoh diatas ikatan berupa iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, seluruh nabi dan rasul-Nya. Menjalankan segenap ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya. Ia akan menjalaninya sesuai kemampuan dan kesanggupannya.
  3. Kemudian dia berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa dari seluruh kejelekan apa yang telah dia perbuat, baik sikap kurang dalam menjalani apa yang Allah wajibkan baginya yaitu mensyukuri nikmat-Nya ataupun berupa perbuatan dosa. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menisbatkan keburukan kepada diri beliau sendiri, bukan kepada Allah Ta’alaa dan ini merupakan bentuk cara beradab kepada Allah, meskipun kita yakin bahwa segala sesuatu baik yang baik maupun yang buruk semuanya berasal dari Allah dan karena takdirNya.
  4. Kemudian ia mengakui akan nikmat Allah yang terus datang beruntun dan anugerah-Nya serta pemberian -Nya yang tiada pernah berhenti.
  5. Dan dia mengakui atas dosa-dosanya, sehingga iapun lantas memohon ampunan kepada Allah Suhhanahu wa Ta’ala dari itu semua dengan segenap pengakuannya bahwa tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa kecuali Allah Suhhanahu wa Ta’ala.
Ini adalah kesempurnaan dari apa yang terdapat / terkandung pada sebuah doa. Kerana itu ia menjadi seagung-agungnya bentuk istighfar dan yang paling utama dan paling luas kandungan maknanya yang mesti akan mendatangkan ampunan bagi dosa-dosa.

Hanyalah yang mengucapkan doa ini dan menjaganya yang akan memperoleh janji yang mulia dan pahala serta ganjaran besar ini, karena ia telah membuka harinya dan menutupnya dengan penetapan Tauhidullah baik Rububiyyah-Nya dan Ululhiyyah-Nya. Dan pengakuan dirinya sebagai hamba yang siap menghamba dan persaksiannya terhadap anugerah dan nikmat Allah. Pengakuannya dan kesadarannya akan kekurangan-kekurangan dirinya dan permohonan maaf dan ampunan dari Dzat yang Maha Pengampun, diiringi dengan rasa tunduk dan rendah dihadapan-Nya untuk senantiasa patuh dan taat kepada-Nya. Ini semua merupakan cakupan makna yang utama dan sifat yang mulia yang ia buka dan tutup lembaran siangnya. Yang pantas bagi orang yang mengucapkan dan menjaganya mendapat maaf dan ampunan, terbebas dari neraka dan masuk syurga.

Wallahu a’lam bisshowab.

Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia  keutamaan dan anugerah-Nya.

Wallpaper Doa Sayyidul Istighfar

Wallpaper Atau Gambar Doa Sayyidul Istighfar



SAYYIDUL ISTIGHFAR

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي; فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

(Allahumma Anta Robbi, Laa Ilaaha Illa Anta, Kholaqtani wa ana abduKa, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, Audzubika min syarri maa shona’tu, Abu’u laka bi ni’matiKa ‘alaiyya wa abu’u laKa bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta )

”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.

Kapan membacanya?

"Barangsiapa membacanya dengan yakin di waktu pagi lalu ia meninggal sebelum masuk waktu sore, maka ia termasuk ahli Surga. Dan barangsiapa membacanya dengan yakin di waktu sore lalu ia meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk ahli Surga." [HR. Al-Bukhari no.6306, 6323, Ahmad IV / 122-125, an-Nasa-i VIII / 279-280].

Istighfar (Memohon Ampunan)

Istighfar (إستغفار) adalah merupakan satu tindakan untuk meminta maaf atau memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wata'ala yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan oleh setiap umat Islam. Hal ini merupakan satu ucapan dan atau bentuk pengakuan yang kemudian dibarengi dengan tingkah / perbuatan dan merupakan amalan yang teramat penting di dalam ajaran Islam. Tindakan ini secara harfiah dilakukan oleh setiap hamba Allah Subhanahu Wata'ala dengan mengulang-ulang perkataan baik dalam Bahasa Arab 'astaghfirullah' atay dengan mempergunakan bahasa indonesia yang berarti "Saya memohon ampunan kepada Allah".

Seorang Muslim dianjurkan menyebut dan atau melafadzkan perkataan ini bukan saja ketika ianya meminta ampun dari Allah sebagai doa, atau ketika melakukan kesalahan akan tetapi juga hendaknya diucapkan ketika ianya sedang berbicara dengan orang lain dan atau melihat orang lain berbuat sesuatu yang kurang benar dan atau aniaya. 

Apabila seorang Muslim hendak mencegah dirinya daripada melakukan suatu perbuatan yang salah dan menyalahi aturan atau saat ia mau membuktikan bahwa ianya tidaklah bersalah pada suatu peristiwa hendaknyalah ianya menggunakan dan atau melafadzkan pernyataan ini dengan kemudian mengulangnya setelah melaksanakan shalat.

Istighfar dalam filosofi Islam kurang lebih bermakna sebuah pengakuan seseorang akan suatu kesalahan yang telah diperbuatnya baik secara sengaja mapun tidak sengaja dengan memohon ampunan atas tindakannya dan terus berusaha untuk menatati perintah Sang Khaliq dan tidak melanggarnya. Dalam Islam, makna Istighfar tidak hanya terletak pada pengucapannya, namun hendaklah seseorang yang beristighfar memaknai dan menghayati apa yang ia ucapkan dalam konteks yang lebih jauh lagi dengan memperbaiki tingkah dan atau perilakunya, agar ianya terus mengingat Tuhan di saat ia tergoda untuk melakukan perbuatan dosa, dan apabila telah melakukan dosa, maka istighfar adalah titik balik baginya sebagai satu bentuk pengakuan akan kekhilafan yang telah diperbuatannya dengan harapan agar tidak terulang apa yang telah diperbuatannya

Makna Sayyidul Istighfar

Kandungan Makna dari Sayyidul Istighfar atau Penghulu Istighfar :

Sayyidul Istighfar adalah merupakan satu bentuk pengakuan makhluk yang lemah kepada Sang Khaliq Yang Maha Agung sebagai satu - satunya Sesembahan yang patut untuk disembah, Sayyidul istighfar adalah pengakuan seorang hamba yang meyakini baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan bahwa ianya sedang berada dalam satu perjanjian kepada Sang Khaliq dalam rangka untuk menjalankan segala perintahdan menjauhi semua larangan Nya sesuai dengan kesanggupan sang hamba sebagaimana hal ini dijelaskan secara tersurat dalam surah Al Baqarah ayat terakhir.

Sayyidul Istighfar juga berisi permohonan seorang hamba yang tiada mempunyai daya dan upaya akan perlindungan Sang Khaliq, terhadap segala apa yang telah diperbuat oleh seorang hamba , memohon ampunan atas segala khilaf , mengakui segala nikmat yang telah diberikan oleh Nya yang dalam hal ini mencakup banyak hal dan makna.

Sebagian ulama' meyakini dan menyatakan bahwa Sayyidul Istighfar kurang lebih mengandung pengertian atas perjanjian dan hubungan erat antara seorang hamba dengan Tuhannya serta mengandung pengakuan atas segala kelalaian dan kelengahan manusia dalam melaksanakan kewajiban Nya. Padahal manusia telah membuat perjanjian ketika ia masih dalam rahim ibu (dalam alam roh) bahwa ia dalam hidupnya akan senantiasa berta’at dan berbakti kepada Tuhan. Mengakui atas nikmat-nikmat Tuhan, nikmat harta benda, nikmat kelengkapan anggota tubuh dan kesempurnaan panca indera, kesehatan badan, pikiran, kebahagiaan dan sebagainya.

Karenanya manusia yang selalu ingat akan Sang Pencipta akan senantiasa memohon perlindungan kepada Sang Khaliq agar supaya diampuni dari segala khilaf dan terpelihara segala nikmat karena akibat perbuatan dirinya. Disamping itu Sayyidul Istighfar adalah satu bentuk pengakuan dosa seorang hamba yang sudah mengetahui akan keterbatasan dan ketidakmampuan dirinya dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap Sang Pencipta. Timbul kesadaran dari hati nurani yang tulus ikhlas disertai dengan pengharapan mohon ampunan Sang Khaliq setiap pagi dan petang.

FADILAH SAYYIDUL ISTIGHFAR

Rasulullah saw menerangkan: “Siapa membaca istighfar utama diwaktu pagi dengan penuh keyakinan sesuai arti dan tujuan kalimat tersebut, kemudian ia meninggal pada hari itu, ialah ahli surga. Dan siapa yang membaca diwaktu sore dengan cara itu, kemudian ia meninggal pada malam hari, iapun ahli surga.”

Dari Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar; dan untuk setiap kesempitannya kelapangan; dan Allah memberi-nya rezeki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim).

Bagi seorang spiritualis dan pelaku ilmu hikmah, amalan ini merupakan pondasi spiritual yang sangat penting. Oleh karenanya hafalkan dan amalkanlah Sayyidul istighfar ini.

Makna Istighfar

Istighfar dalam pengertian bahasa adalah memohon ampunan atas segala dosa yang dilakukan oleh seorang hamba dengan upaya untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Hal ini hendaknyalah dilakukan dengan perkataan yang tulus ikhlas semata - mata mengharap Ridha Nya yang kemudian dibarengi dengan tingkah perbuatan dengan jalan meninggalkan setiap perbuatan dosa dan maksiat yang telah dilakukan, beberapa ulama mengungkapkan istighfar berasal dari kata "alghafar" yang berarti "as-satr /menutup" untuk itu dinamakan istighfar karena mengandung ma'na menutupi sebagaimana firman Allah :

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" At-taghabun 14

Sedangkan dalam alqur'an istighfar mempunyai beberapa pengertian diantaranya :

Al-Islam: Para Ahli Tafsir seperti Mujahid dan `Akramah mengartikannya demikian berdasarkan pada ayat yang berbunyi :

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ

مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun" Al-Anfal 33.

Doa: Ulama yang lain mengartikannya dengan do'a, setiap do'a yang berisikan permohonan ampunan disebut istigfar,antara do'a dan istighfar mempunyai kekhususan dan keumuman, Istighfar menjadi khusus jika dilakukan dengan perbuatan (al-istighfar bil a'maal) sebagaimana do'a menjadi khusus jika berisikan bukan permohonan ampunan.

3. Taubat: Banyak diantara kita mengartikan Istighfar dengan taubat,sperti diatas keduanya mempunyai kekhususan dan keumuman.Istighfar : Memohon ampunan dan perlindungan dari perbuatan dosa dimasa lampau. Taubat : Kembali dan memohan perlidungan dari perbuatan dosa yang sama dimasa yang akan datang. Ibnul Qoyyim berpendapat Istighfar dua bagian, Istighfar mufrad dan Istighfar yang diiringi dangan Taubat(maqrun). Pertama seperti ungkapan Nabi  Nuh terhadap kaumnya,

فقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun", Nuh:10.

Yang kedua firman Allah:

" وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا

حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ

عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat" Hud : 3

Sayyidul Istighfar

Sayyidul Istighfar Adalah merupakan salah satu diantara sekian banyak doa atau dzikir yang bisa kita istiqomahkan untuk membacanya , dan bacaan istighfar ini mempunyai banyak sekali manfaat dan merupakan do'a / bacaan istighfar yang paling utama.

Sayyidina Jabir menjelaskan: Rasulullah saw, bersabda: “Pelajarilah dengan baik istighfar utama (Sayyidul istighfar) dan amalkanlah” Nabi Muhammad Shalallahu 'alahi wa Sallam menamainya sebagai Sayyidul Istighfar (penghulu istighfar atau raja istighfar) yagn mana dari Makna sayyid ini kita dapatkan pengertian yang kurang lebih berarti seseorang yang melebihi kaumnya dalam hal kebaikan dan yang berkedudukan tinggi dikalangan mereka, makna yang demikian itulah yang kemudian disematkan kepada Bacaan Istighfar ini karena do'a atau bacaan ini melebihi seluruh bentuk istighfar dalam hal keutamaan dan lebih tinggi dalam hal kedudukan.

Berikut adalah Bacaan dari Sayyidul Istighfar yang kami sajikan dalam bentuk gambar dan tertulis 
  
“Allaahumma anta rabbii laa ilaa ha’illaa anta khalaqtanii wa ana abduka wa anaa alaa ahdika, wawa’dika mastatha‘tu a uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu ‘ulaka bini’matika alayya wa abuu ‘ubizdanbii faghfirlii fa innahu laa yaghfirudzunuu ba illaa anta”

Artinya (dalam bahasa indonesianya)  “Ya Allah Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang patut disembah hanya Engkau yang menjadikan aku. Aku hambaMu dan aku dalam genggamanMu, aku dalam perjanjian beriman dan berta’at kepadaMu sekedar kesanggupan yang ada padaku. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang aku perbuat. Aku mengakui atas nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan mengakui atas dosaku, aku mohon keampunanMu, tidaklah ada yang dapat mengampuni dosa seseorang, hanya Engkaulah hai Tuhanku.”